*SUNNAH MAKAN BERSAMA | Catatan Jumat*
*(Denis Arifandi Pakih Sati)*
Bersatu dan tidak bercerai-berai, merupakan salah satu point penting yang selalu didorong oleh Rasulullah Saw agar Umat Islam menetapinya.
Banyak jalan dan wasilah yang dianjurkan untuk mencapainya. Salah satunya adalah makan bersama-sama, tidak sendiri-sendiri.
Diriwayatkah oleh Abu Daud, dari Wahsyi bin Hazbin radhiyallahu anhu:
ูุง ุฑุณَูู ุงَِّููู ุฅَّูุง ูุฃُูู ููุง َูุดุจุนُ ูุงَู: ููุนَُّููู
ุชุฃَُูููู ู
ุชูุฑَِّููู ؟ ูุงููุง: ูุนَู
، ูุงَู: ูุงุฌุชَู
ุนูุง ุนูู ุทุนุงู
ُِูู
، ูุงุฐُูุฑูุง ุงุณู
َ ุงَِّููู ุนَِููู، ูุจุงุฑَْู َُููู
ِููู
"Wahai Rasulullah, kami makan namun kami tidak kenyang-kenyang."
"Mungkin kalian makan sendiri-sendiri?" Kata Nabi Muhammad Saw.
"Ya," jawab mereka.
"Maka, bersama-samalah pada makanan kalian. Sebutlah nama Allah SWT. Kalian akan diberkahi padanya."
Dalam riwayat ini, ada dua syarat agar keberkahan menyertai makanan yang akan dimakan: Pertama, Berkumpul. Kedua, Menyebut nama Allah SWT sebelum mulai makan.
Keberkahan itu bukan sekadar di makanan dan bekasnya di badan, namun juga dalam baiknya hubungan keluarga. Berada di satu meja makan (majelis); makan bersama-sama, akan menguatkan hubungan tersebut,[]
Tags:
@PRPMTOMPEYAN