Membangun PerAdaban
Fauzi Rochman
Menurut Ibn Khaldun tanda terwujudnya peradaban adalah berkembangnya ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia, geometri, aritmatik, astronomi, optik, kedokteran dan lain sebagainya. Bisa dikatakan bahwa maju mundurnya suatu perdaban berkaitan dengan maju mundurnya ilmu pengetahuan. Maka inti peradaban menurut Ibn Khaldun adalah ilmu pengetahuan. Maka peradaban bisa dimulai dari komunitas terkecil yang jika komunitas itu membesar maka bisa menjadi peradaban besar. Itu yang dilakukan oleh Nabi mendidik para sahabatnya selama 23 tahun dari komunitas kecil di tanah arab yang tandus dan gersang menjadi komunitas yang besar yang diperhitungkan di jazirah arab.
Komunitas juga muncul dari perkotaan atau bahkan dari komunitas itu membentuk sebuah kota. Dengan adanya komunitas itu munculah sebuah sistem kemasyarakatan sehingga lahirlah suatu negara. Kota Madinah, kordova, Baghdad, samara, kairo merupakan berasal dari komunitas yang kemudian melahirkan negara.
Selain itu Ibn Khaldun menyatakan bahwa tanda-tanda lahirnya dan hidupnya suatu peradaban adalah berkembangnya teknologi (sandang, pangan dan arsitektur) kegiatan ekonomi, tumbuh praktek kedokteran, kesenian (kaligrafi, musik, sastra). Maka suatu komunitas yang aktif dan kreatif itu menghasilkan ilmu pengetahuan.
Sejarah telah mencatat bahwa masa masa klasik merupakan masa kegemilangan peradaban Islam. periode Bani Umayyah misalnya (651-675 M) terjadinya penerjemahan besar besaran kedalam Bahasa arab seperti bidang kimia, filsafat Yunani, bidang kedokteran sehingga keilmuwan pada masa itu menjadi bekal untuk periode Bani Abbasiyah (750-1258 M). Pada periode Abbasiyah didirikanlah perpustakaan yanag sangat besar yang Bernama Bayt al-Hikmah yang berisikan buku buku terjemahan dan karya orang Islam seperti geometri, matematika astronomi dan sebagainya.
Alkindi (801-873 M) merupakan cendikian yang berpengaruh pada periode Abbasiyah hasil karyanya sebanyak 270 buku mulai dari logika, matematika, fisika dan musik. Beliau dikenal sebagai filsuf Arab karena usaha tak kenal lelahnya untuk membuat filsafat diterima dikalangan para teolog.
Selanjutnya ada nama al Farabi (870-950 M) juga merupakan cendikian muslim yang di kenal sebagai “guru kedua” setelah Aristoteles yang dijuluki sebagai “guru pertama”. Sebutan ini tidak lepas dari peran nya sebagai orang Islam pertama yang merumuskan secara sistematik ilmu filsafat dan memasukkannya dalam ruang kebudayaan Arab, sebagaimana peran Aristoteles sebagai orang pertama yang menciptakan ilmu filsafat.
Ibnu Shina ( 980-1037 M) yang dikenal sebagai bapak kedokteran yang memiliki magnum opusnya dalam bidang ilmu kedokteran yaitu The Canon of medicine selain itu beliau juga menguasai filsafat
Al Ghazali (1058-1111 M) merupakan seorang pemikir besar yang karyanya masih di baca sampai sekarang yaitu ihya’ ulumuddin. Serta karya di bidang filsafat yaitu Tahafut al Falasifah.
Maka karakteristik peradaban Islam pada masa klasik adalah semaraknya kegiatan ilmu pengetahuan. Tentu kegiatan ini didukung oleh semua lini baik elit masyarakat yang ada seperti khalifah, putra mahkota, pegawai negara, pimpinan militer, pengusaha, bankers serta para ulama dan ilmuwan. Sehingga ini bukan proyek kelompok tertentu. Selain itu juga subsidi dana juga banyak dari semua pihak.
Implikasinya mencontoh dari masa klasih pada masa ini juga perlu kegiatan pembangunan peradaban tidak lain tak bukan melalui pengembangan ilmu pengetahuan. Karena sudah ada contoh dari masa lalu dengan ada nya kesuksesan periode klasih islam membangun peradabannya. Kegiatan ini juga perlu dukungan dari berbagai pihak. Meskipun tidak mendapatkan dukungan sepenuhnya seperti pada zaman klasik, paling tidak adanya kesadarang semua kalangan akan pentingnya ilmu pengetahuan untuk semua bidang kehidupan maka umat islam perlu senantiasa di ingatkan dan diarahkan akan pentingnya hal ini.